Guse
Enak ya kalo bisa jadi gus. Kaya gus syamsul,” celetuk Puji ketika kami cangkrukan di sermabi musola usai sholat ashar.
“Kok bisa?,” aku mau tak mau sedikit tertarik dengan pernyataannya.
“Lha ya, hidup serba mudah, bahkan tak pernah merasakan sulit. Mau makan tinggal ambil, sudah ada yang memasak. Baju kotor tinggal taruh sudah ada yang nyuciin. Apalagi dihormati layaknya pangeran oleh santri-santri (abahnya),” jawab Puji.
“Hus! Gak sopan ngarsani guse. Nanti kualat lo,” sergahku.
“Ini fakta, men. Bukan gosip,” Puji mulai berargumen, “rata-rata pak kiai-pak kiai kan oragnya kaya. Lihat saja kiai Sudin di desa kita, rumahnya gede, mobilnya kinclong, belum lagi santrinya banyak,”
”Itu kan kiai. Beda dong sama gus,” aku tak mau kalah.
“Jika kiai saja dihormati seperti itu, tentu keluarganya juga demikian. Terlebih anaknya yang jadi gus,” Puji terus saja berceloteh.
“Wah, ya gak gitu to, mas,” kang Takim yang dari tadi diam dengan rokok lintingannya mulai nibrung.
“Gak gitu gimana?,” Puji tak terima. Sebagai teman sekelas sekaligus sedesa aku tahu kehidupan keluarganya. Puji adalah anak petani biasa & ibunya berjualan nasi pecel. Kata sulit merupakan hal yang sudah akrab dalam kamus kehidupannya. Jadi maklum jika ia ‘agak’ iri dengan guse. Apalagi kami berdua masih tergolong santri anyar di sini.
“Itu semua adlah rezeki dari gusti Allah. Rezeki beliau dipermudah olehNya karena beliau ikhlas mengamalkan ilmunya & mengajarkannya kepada santri,” kang Takim mulai berceramah, “dulu pak kiai juga merasakan beratnya hidup ketika masih mondok seperti kita. Bahkan beliau cerita sendiri kalau dulu mondok sambil mencari nafkah, wlau hanya untuk diri sendiri,”.
“Kalau pak kiai sih gak masalah. Guse itu lho, kang. Kapan to gus-gus itu merasakan masa-masa sulit seperti kita? Lha wong tiap hari dilayani cah-cah ndalem,” Puji sewot.
“Jangan salah, kondisii seperti itu karena kebetulan abahnya juga diberi kemudahan. Banyak juga lho gus-gus yang juga hidup sama rekosonya dengan kita,” kata kang Takim lagi.
***
Pikiranku kemudian melayang ke acara tabligh ramadhan lalu di balai kota. Muballighnya tokoh nasional yang terkenal dengan grup gamelannya. Yang membuatku tertarik adalah salah satu kutipan pidatonya tentang kedudukan kita di antara orang lain.
“Saya, siapa saya? Jawabannya bisa macem-macem,” beliau memancing tanda tanya pendengar.
“Saya adalah lelaki jika saya berhadapan dengan perempuan, terutama istri saya. Di depan anak-anak saya menjadi bapak bagi mereka. Lain lagi jika sudah keluar rumah. Siapa saya ketika berada di tengah-tengah tetangga dan warga lain? Ustad? Kiai? Orang penting? Bukan!. Saya adalah ‘wong biasa’ seperti orang-orang lainnya. Bukan apa-apa,” lanjut beliau.
***
“Eh, kang. Kalau gus syamsul di luar pondok apa ya masih dipanggil gus?,” selidikku.
“Iya dong,” jawab kang Takimm, “ lha mau jadi apa? Kkucing?,”
“Bukan gitu. Kalau memang seperti itu apa tidak malah terkesan membagi-bagi masyarakat dalam kelas-kelas tertentu. Ada yang kelas atas, menengah, bawah sampe yang lebih rendah daripda sandalku,” sergahku sambil menunjuk sandal selopku.
“Maksudnya?,” kang Takim belum ngeh ternyata.
Kujelaskan ceramah dari dai kondang tadi. “jika mau diteruskan, seseorang disebut kiai ketika di depan santri-santrinya. Bu nyai, gus, dan ning pun mestinya juga demikian dong. Kalau di depan tetangga yang notabene ‘hanya’ petani biasa misalnya, tetap menganggap dirinya gus apa gak malah membuat orang di depannya iri? Ke mana-mana menyandang gelar gus, yang biasanya terhormat di kalangan santri. Bukankah berarti ia belum bisa berbaur, menyatu dengan masyarakatnya?,” jelasku panjang lebar.
“Hmm.. iya juga, sih,” kang Takim baru manggut-manggut sekarang.”eh, tapi ada juga lho, gus yang tak mau diketahi identitas ‘gus’nya agar bisa mennjadi ‘wong’ kaya penjelasanmu tadi,”
“Gus yang hanya berkutat di pondok tuh biasanya kan gitu, kang. Kurang bisa bergaul dengan masyarakat susah, karena terlalu menikmari penghormatan dari para santri,” Puji kini juga mulai ngomong lagi, ”padahal tugas seorang ‘gus’ kan gak sepele, sebagai penerus abahnya kelak, juga menjadi panutan masyarakat. Kalau dengan masyarakat saja kurang srawung, bagaimana bisa terwujud?,”
Kami duduk dalam diam dengan pikiran masing-masing. Tak melanjutkan persoalan tadi. Karena memang kami tak tahu bagaimana rasanya menjadi gus.
Tiba-tiba dari arah utara musola seseorang berjalan ke arah kami. Ternyata gus Badrun, kakak gus syamsul. Melihat gus-nya datang kang Takim menyapanya. Kami yang belum terbiasa jagongan dengan guse sungkan sendiri. Salah tingkah. “menunduk aja, deh. Kaya temen-temen biasanya,” pikirku.
“Kebetulan, nih. Ada orang yang tepat yang bisa memberi penjelasan tentang kejanggalan sampeyan tadi,” kata kang Takim kepada kami sambil memperkenalkan guse. “gus Bad ini dulu juga merasakan mondok seperti kita sekarang ini,”
Kang Takim kemudian menceritakan runtut masalah kami dari awal kepda gus Bad.
“O.. gitu to kang,” sahut gus Bad begitu kang Takim selesai bercerita, “pendapat sampeyan emmang tidak salah, Cuma tidak semua gus seperti itu,”
Gus Bad bercerita ketika dulu waktu mondok di Jateng malah tak bisa dibedakan, mana santri mana gus. Semua yang ikut ngaji dan mondok dengan pak kiai berstatus sama, santri. Tak ada istilah membeda-bedakan status. Karena memang pak kiai sendiri pernah, bahkan sering mewanti-wanti dalam setiap tausiyahnya, bahwa status gus, anak lurah, bos, dll itu semua disandang santrinya ketika di tempat tinggalnya. Begitu masuk pondok, ia mesti rela melepas jubah kebesarannya dan menjadi ‘kang’ seperti santri-santri lainnya. Bahkan guse, putra pak kiai sendiri. Dengan begitu hubungan ukhuwah yang ditimbulkan kian erat tanpa ada sekat.
“Aku juga baru sadar setelah beberapa tahun di sana lho, kang,” ujar gus Bad mengaku, “waktu kecil aku juga sering menganggap diriku ‘gus’, suatu status yang tergolong istimewa karena tak semua orang bisa merasakannya. Tapi ternyata itu semua salah. ‘gus’ kan ada karena biasanya ayahnya seorang kiai. Lha kalau terus ingin disebut ‘gus’ bukankah sama saja selalu mengantungkan statusnya kepada ayanhnya,” jelasnya panjang lebar.
“Oh iya, aku ingat, gus. Ada syair yang bagus terkait masalah ini,” ujar kang Takim, ia memang termasuk jajaran tim vokal dalam grup hadroh kamar kami.
“laisal fata man yaqulu hadza abi lakinnal fata man yaqulu ha ana dza, murodnya kurang lebih,bukanlah pemuda, seseorang yang mengatakan ‘ini lho bapakku’, tetapi pemuda sejati adaah yang dengan bangga mengatakan ‘inilah aku’ (bukan karena bapakku)” anjut kang Takim.
Aku dan Puji kini manggut-manggut tanda setuju.
“Mengenai syamsul, kalian harap maklumlah. Ia kan masih kecil. Sekarang baru kelas 6 SD. Begitu lulus SD rencananya juga mau dipondokkan di luar, agar tak selau menikmati suasana di rumah,” kata gus Bad.
Aku dan Puji kini makin mantap dan bersyukur bisa mondok di sini. Ternyata tak semua gus itu pangeran, seperti gambaran kami sebelumnya. Gus Bad malah sama sekali tak menampakkan status ‘gus’nya. Bahkan di depan santri abahnya sendiri. Orangnya santai. Dan menurut cerita, semua penduduk di desa ini mengenalnya sebagai pemuda yang ringan tangan, suka membantu, bukan gus yang enggan dolan ke tetangga.
“Eh, tahu nggak ada gus lain di sini selain gus Bad,” celetuk kang Takim memecah keheningan.
“siapa, kang?,”Puji ingin tahu.
“Lha ini,” kata kang Takim sambil membenarkan kopyah yang tidak miring di kepalanya.
“Uuu.. kalo sampeyan itu ‘gus-uran’!” kami terpingkal dibuatnya.
Lirboyo, 02012011 oleh Muh. Aminullah
“Kok bisa?,” aku mau tak mau sedikit tertarik dengan pernyataannya.
“Lha ya, hidup serba mudah, bahkan tak pernah merasakan sulit. Mau makan tinggal ambil, sudah ada yang memasak. Baju kotor tinggal taruh sudah ada yang nyuciin. Apalagi dihormati layaknya pangeran oleh santri-santri (abahnya),” jawab Puji.
“Hus! Gak sopan ngarsani guse. Nanti kualat lo,” sergahku.
“Ini fakta, men. Bukan gosip,” Puji mulai berargumen, “rata-rata pak kiai-pak kiai kan oragnya kaya. Lihat saja kiai Sudin di desa kita, rumahnya gede, mobilnya kinclong, belum lagi santrinya banyak,”
”Itu kan kiai. Beda dong sama gus,” aku tak mau kalah.
“Jika kiai saja dihormati seperti itu, tentu keluarganya juga demikian. Terlebih anaknya yang jadi gus,” Puji terus saja berceloteh.
“Wah, ya gak gitu to, mas,” kang Takim yang dari tadi diam dengan rokok lintingannya mulai nibrung.
“Gak gitu gimana?,” Puji tak terima. Sebagai teman sekelas sekaligus sedesa aku tahu kehidupan keluarganya. Puji adalah anak petani biasa & ibunya berjualan nasi pecel. Kata sulit merupakan hal yang sudah akrab dalam kamus kehidupannya. Jadi maklum jika ia ‘agak’ iri dengan guse. Apalagi kami berdua masih tergolong santri anyar di sini.
“Itu semua adlah rezeki dari gusti Allah. Rezeki beliau dipermudah olehNya karena beliau ikhlas mengamalkan ilmunya & mengajarkannya kepada santri,” kang Takim mulai berceramah, “dulu pak kiai juga merasakan beratnya hidup ketika masih mondok seperti kita. Bahkan beliau cerita sendiri kalau dulu mondok sambil mencari nafkah, wlau hanya untuk diri sendiri,”.
“Kalau pak kiai sih gak masalah. Guse itu lho, kang. Kapan to gus-gus itu merasakan masa-masa sulit seperti kita? Lha wong tiap hari dilayani cah-cah ndalem,” Puji sewot.
“Jangan salah, kondisii seperti itu karena kebetulan abahnya juga diberi kemudahan. Banyak juga lho gus-gus yang juga hidup sama rekosonya dengan kita,” kata kang Takim lagi.
***
Pikiranku kemudian melayang ke acara tabligh ramadhan lalu di balai kota. Muballighnya tokoh nasional yang terkenal dengan grup gamelannya. Yang membuatku tertarik adalah salah satu kutipan pidatonya tentang kedudukan kita di antara orang lain.
“Saya, siapa saya? Jawabannya bisa macem-macem,” beliau memancing tanda tanya pendengar.
“Saya adalah lelaki jika saya berhadapan dengan perempuan, terutama istri saya. Di depan anak-anak saya menjadi bapak bagi mereka. Lain lagi jika sudah keluar rumah. Siapa saya ketika berada di tengah-tengah tetangga dan warga lain? Ustad? Kiai? Orang penting? Bukan!. Saya adalah ‘wong biasa’ seperti orang-orang lainnya. Bukan apa-apa,” lanjut beliau.
***
“Eh, kang. Kalau gus syamsul di luar pondok apa ya masih dipanggil gus?,” selidikku.
“Iya dong,” jawab kang Takimm, “ lha mau jadi apa? Kkucing?,”
“Bukan gitu. Kalau memang seperti itu apa tidak malah terkesan membagi-bagi masyarakat dalam kelas-kelas tertentu. Ada yang kelas atas, menengah, bawah sampe yang lebih rendah daripda sandalku,” sergahku sambil menunjuk sandal selopku.
“Maksudnya?,” kang Takim belum ngeh ternyata.
Kujelaskan ceramah dari dai kondang tadi. “jika mau diteruskan, seseorang disebut kiai ketika di depan santri-santrinya. Bu nyai, gus, dan ning pun mestinya juga demikian dong. Kalau di depan tetangga yang notabene ‘hanya’ petani biasa misalnya, tetap menganggap dirinya gus apa gak malah membuat orang di depannya iri? Ke mana-mana menyandang gelar gus, yang biasanya terhormat di kalangan santri. Bukankah berarti ia belum bisa berbaur, menyatu dengan masyarakatnya?,” jelasku panjang lebar.
“Hmm.. iya juga, sih,” kang Takim baru manggut-manggut sekarang.”eh, tapi ada juga lho, gus yang tak mau diketahi identitas ‘gus’nya agar bisa mennjadi ‘wong’ kaya penjelasanmu tadi,”
“Gus yang hanya berkutat di pondok tuh biasanya kan gitu, kang. Kurang bisa bergaul dengan masyarakat susah, karena terlalu menikmari penghormatan dari para santri,” Puji kini juga mulai ngomong lagi, ”padahal tugas seorang ‘gus’ kan gak sepele, sebagai penerus abahnya kelak, juga menjadi panutan masyarakat. Kalau dengan masyarakat saja kurang srawung, bagaimana bisa terwujud?,”
Kami duduk dalam diam dengan pikiran masing-masing. Tak melanjutkan persoalan tadi. Karena memang kami tak tahu bagaimana rasanya menjadi gus.
Tiba-tiba dari arah utara musola seseorang berjalan ke arah kami. Ternyata gus Badrun, kakak gus syamsul. Melihat gus-nya datang kang Takim menyapanya. Kami yang belum terbiasa jagongan dengan guse sungkan sendiri. Salah tingkah. “menunduk aja, deh. Kaya temen-temen biasanya,” pikirku.
“Kebetulan, nih. Ada orang yang tepat yang bisa memberi penjelasan tentang kejanggalan sampeyan tadi,” kata kang Takim kepada kami sambil memperkenalkan guse. “gus Bad ini dulu juga merasakan mondok seperti kita sekarang ini,”
Kang Takim kemudian menceritakan runtut masalah kami dari awal kepda gus Bad.
“O.. gitu to kang,” sahut gus Bad begitu kang Takim selesai bercerita, “pendapat sampeyan emmang tidak salah, Cuma tidak semua gus seperti itu,”
Gus Bad bercerita ketika dulu waktu mondok di Jateng malah tak bisa dibedakan, mana santri mana gus. Semua yang ikut ngaji dan mondok dengan pak kiai berstatus sama, santri. Tak ada istilah membeda-bedakan status. Karena memang pak kiai sendiri pernah, bahkan sering mewanti-wanti dalam setiap tausiyahnya, bahwa status gus, anak lurah, bos, dll itu semua disandang santrinya ketika di tempat tinggalnya. Begitu masuk pondok, ia mesti rela melepas jubah kebesarannya dan menjadi ‘kang’ seperti santri-santri lainnya. Bahkan guse, putra pak kiai sendiri. Dengan begitu hubungan ukhuwah yang ditimbulkan kian erat tanpa ada sekat.
“Aku juga baru sadar setelah beberapa tahun di sana lho, kang,” ujar gus Bad mengaku, “waktu kecil aku juga sering menganggap diriku ‘gus’, suatu status yang tergolong istimewa karena tak semua orang bisa merasakannya. Tapi ternyata itu semua salah. ‘gus’ kan ada karena biasanya ayahnya seorang kiai. Lha kalau terus ingin disebut ‘gus’ bukankah sama saja selalu mengantungkan statusnya kepada ayanhnya,” jelasnya panjang lebar.
“Oh iya, aku ingat, gus. Ada syair yang bagus terkait masalah ini,” ujar kang Takim, ia memang termasuk jajaran tim vokal dalam grup hadroh kamar kami.
“laisal fata man yaqulu hadza abi lakinnal fata man yaqulu ha ana dza, murodnya kurang lebih,bukanlah pemuda, seseorang yang mengatakan ‘ini lho bapakku’, tetapi pemuda sejati adaah yang dengan bangga mengatakan ‘inilah aku’ (bukan karena bapakku)” anjut kang Takim.
Aku dan Puji kini manggut-manggut tanda setuju.
“Mengenai syamsul, kalian harap maklumlah. Ia kan masih kecil. Sekarang baru kelas 6 SD. Begitu lulus SD rencananya juga mau dipondokkan di luar, agar tak selau menikmati suasana di rumah,” kata gus Bad.
Aku dan Puji kini makin mantap dan bersyukur bisa mondok di sini. Ternyata tak semua gus itu pangeran, seperti gambaran kami sebelumnya. Gus Bad malah sama sekali tak menampakkan status ‘gus’nya. Bahkan di depan santri abahnya sendiri. Orangnya santai. Dan menurut cerita, semua penduduk di desa ini mengenalnya sebagai pemuda yang ringan tangan, suka membantu, bukan gus yang enggan dolan ke tetangga.
“Eh, tahu nggak ada gus lain di sini selain gus Bad,” celetuk kang Takim memecah keheningan.
“siapa, kang?,”Puji ingin tahu.
“Lha ini,” kata kang Takim sambil membenarkan kopyah yang tidak miring di kepalanya.
“Uuu.. kalo sampeyan itu ‘gus-uran’!” kami terpingkal dibuatnya.
Lirboyo, 02012011 oleh Muh. Aminullah